SMA PANGUDI LUHUR I BRAWIJAYA JAKARTA
SMA Pangudi Luhur I Brawijaya - Jl. Brawijaya IV Kebayoran Baru Jakarta Selatan - Indonesia  Telp. (021) 7243556
Selasa, 24 Oktober 2017  - 2 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


11.11.2006 16:16:49 4219x dibaca.
ARTIKEL
PENGALAMAN MENGAJAR DI SMA PANGUDI LUHUR JALAN BRAWIJAYA 4 JAKARTA SELATAN

AWAL MENGENAL PANGUDI LUHUR
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana muda jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Dharma Jogyakarta tahun 1978, penulis langsung menjadi tenaga pengajar di SMP St Yohanes XXIII di Semarang. Namun karena merasa kurang mapan, penulis kemudian berusaha melamar pekerjaan ke berbagai tempat baik di bidang pendidikan maupun di bidang yang lain. Salah satu yang penulis jadikan tujuan lamaran adalah Yayasan Pangudi Luhur di Semarang.


Bersamaan dengan panggilan tes wawancara dengan Bruder Antherus FIC dan Bruder Michael FIC penulis mulai mengenal Yayasan Pangudi Luhur, Peristiwa itu tepatnya tahun 1979. Pada saat itu penulis mulai menyadari bahwa karya Yayasan Pangudi Luhur di bidang pendidikan sudah ada di mana-mana, antara lain di Solo, Klaten, Jogya, Semarang, dan Jakarta.


Dari hasil pembicaraan antara penulis dengan Bruder Antherus FIC dan Bruder Michael FIC, penulis ditugaskan untuk menjadi tenaga pengajar bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Pangudi Luhur Jakarta.


Seiring dengan perjalanan waktu penulis semakain mengenal Yayasan Pangudi Luhur dengan semakin jelas. Yayasan Pangudi Luhur tidak hanya berkarya di bidang pendidikan, namun juga berkarya di bidang social dan keagamaan.


NYARIS TANPA BIMBINGAN
Awal tahun ajaran 1979-1980 penulis mulai berkarya sebagai guru bidang studi Bahasa dan Satra Indonesia di kelas I dan Kelas II IPA. Berbekal pengalaman yang sangat minim penulis berusaha keras melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Namun kesulitan mulai menghadang. Penulis mengalami kesulitan dengan silabus atau bahan ajar untuk kelas I dan kelas II. Penulis mencoba mencari informasi kepada Kepala Sekolah sehubungan dengan buku kurikulum pelajaran Bahasa dan Satra Indonesia. Ternyata beliau sudah menyerahkan kepada guru bidang studi Bahasa Dan Sastra Indonesia yang lebih senior yaitu Bapak Sartuni. Selain itu Kepala Sekolah mengatakan bahwa yang penting adalah guru harus memiliki kreativitas dalam hal mengajar. Siswa boleh diajari apa saja bahkan melebihi isi kurikulum, asalkan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat membuat siswa cerdas dan kreatif. Kemudian pada saat penulis bermaksud meminjam buku kurikulum tersebut beliau Bapak Sartuni menjawab bahwa buku kurikulum itu sudah tidak tahu ada di mana. Penulis kemudian meminta petunjuk silabus atau bahan ajar  bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas I dan II, namun beliau Bapak Sartuni tidak pernah memberikannya.


Dengan bermodalkan bahan kuliah, pengalaman sedikit, dan beberapa buku yang penulis miliki, penulis mencoba menyusun silabus atau bahan pelajaran sebaik mungkin. Silabus tersebut kemudian penulis jadikan pegangan untuk mengajar. Silabus tersebut memang setiap tahun ajaran penulis perbaharui untuk penyempurnaan.


Melihat kenyataan pengalaman mengajar bagi guru baru di Yayasan Pangudi Luhur, khususnya di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta seperti itu, penulis pada waktu itu sangat mengharapkan adanya pembekalan atau pelatihan menjelang diterjunkan di lapangan sebagai tenaga pengajar di lingkungan Yayasan Pangudi Luhur. Pembekalan atau pelatihan bagi calon guru sangatlah penting, agar calon guru yang bersangkutan paling tidak sudah memiliki modal dasar untuk ditrejunkan sebagai tenaga pengajar.


Karena kenyataan waktu itu tidak ada pembekalan atau pelatihan seperti itu, maka  penulis saat itu  hanya mengharapkan paling tidak ada bimbingan dari kepala sekolah, para guru senior, dan khususnya dari guru senior pada bidang studi yang sama. Namun sayangnya pada waktu itu harapan tersebut sampai dengan beberapa tahun tidak kunjung terwujud.


Kesulitan yang penulis hadapi, tentu saja guru baru bidang studi yang lain sama saja, rupanya diketahui oleh pihak Yayasan Pangudi Luhur sehingga pada waktu kemudian semua guru baru mendapat pembekalan sebelum diterjunkan mengajar. Pembekalan yang dilakukan oleh pihak yayasan dan dipusatkan di Semarang adalah langkah yang sangat bagus demi menunjang kesiapan mengajar guru yang bersangkutran.


Pembekalan yang dilakukan oleh Yayasan Pangudi Luhur memang bagus. Tetapi dalam hal pelatihan dan kesiapan calon guru baru dalam hal penyusunan silabus atau program pengajaran tampaknya belum disentuh samapi dengan saat ini. Alangkah baiknya bila hal tersebut dilaksanakan juga oleh Yayasan Pangudi Luhur sehingga kualitas guru baru akan lebih meningkat. Peningkatan kualitas guru baru ini tentu dapat menjadi akselerasi yang bagus sekali dalam hal peningkatan atau perkembangan kualitas mengajarnya.

MISTERI PERTANYAAN DAN PERNYATAAN
Pada saat akhir tes wawancara penulis ingat ada pertanyaan yang ditanyakan oleh Bruder Michael. Pertanyaan tersebut berbunyi, “ Bapak Mariatmadi nanti di SMA pangudi Luhur Jakarta beranikah mengajar di kelas II ?” dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi secara spontan penulis jawab,”Sanggup, Bruder.”


Pada akhir wawancara itu juga ada pernyataan yang cukup aneh dan mengejutkan. Pernyataan dari Bruder Michael tersebut berbunyti,”Bapak Mariatmadi, silakan mencoba mengajar di SMA Pangudi Luhur Jakarta, tetapi apabila tidak betah beritahulah saya secepatnya agar saya dapat segera mencari guru pengganti.”


Dua kalimat dari Bruder Michael tersebut selintas saat mendengarnya tidak terasa keanehannya. Namun setelah penulis berada di jalan, barulah terasa keanehannya. Beranikah mengajardi kelas II? Setelah penulis renungkan ternyata sukar sekali memahami apa makna di balik pertanyaan tersebut. Bahkan dalam pikiran penulis timbul berbagai pertanyaan yang semakin sukar dijawab. Mengapa Bruder Michael menayakan hal itu? Apakah beliau menyangsikan kualitas penulis? Apabila menyangsikan kualitas penulis , mengapa tidak menanyakan indek prestasi atau nilai saat di perkuliahan? Ada apa dengan kelas II SMA Pangudli Luhur Jakarta? Tentu saja masih banyak pertanyaan lain dalam pikiran penulis saat itu, dan aneka pertanyaan itu tidak ada yang terjawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang menjadi misteri sampai keberangkatan penul;is ke Jakarta.


Pertanyaan Bruder Michael tersebut semakin membingungkan dengan pernyataan yang berikutnya, yakni apabila tidak betah disuruh menginformasikan secepatnya. Apakah dengan pernyataan tersebut beliau sesungguhnya meragukan kemampuan penulis? Apakah penulis hanya menjadi guru cadangan? Atau mungkin postur tubuh penulis yang kurang memadai? Sama dengan pertanyaan-pertanyaan terdahulu, pertanyaan-pertanyaan inipun tidak terjawab, atau tetap menjadi misteri sampai keberangkatan penulis ke Jakarta.


SANGAT MEMBUTUHKAN SYARAF BAJA
Penulis mulai berkarya sebagai guru di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta pada pertengahan bulan Juli 1979 yakni awal awal tahun ajaran 1979-1980. Awal mengajar di kelas satu penulis dapat laksanakan dengan sangat lancar. Siswa-siswa baru kelas satu pada umumnya sangat penurut dan siap belajar. Hal ini tentu saja dapat menciptakan suasana yang sangat kondusif untuk proses kegiatan belajar mengajar dengan baik. Memang ada satu dua siswa yang kurang kondusif, bahkan cenderung ke arah mengganggu, namun dapat penulis atasi. Setelah beberapa waktu barulah penulis ketahui bahwa mereka yang cenderung agak sulit dikendalikan adalah siswa lama atau siswa yang tinggal kelas. Tetapi pada umumnya kenakalan mereka dapat penulis atasi dengan cukup baik.


Pada saat mengajar di kelas dua barulah muncul masalah yang penulis rasakan berat. Terhadap guru baru pada umumnya siswa di dalam kelas sangat tidak menghargai atau melecehkan. Dari sekitar 38 siswa dalam satu kelas setiap kali guru memberi penjelasan yang memperhatikan hanya sekitar 2 sampai dengan 6 siswa yang duduk di deretan depan, sementara siswa yang lain tidak memperhatikan.


Pada malam hari penulis selalu mempersiapkan diri dengan mempelajari materi pelajaran yang akan penulis sampaikan kepada siswa-siswa keesokan harinya. Persiapan ini kadang penulis lakukan sampai larut malam. Tujuan dari persiapan ini terutama agar pada saat mengajar di depan kelas penulis tampak menguasai materi sehingga tidak terlalu dilecehkan oleh para siswa, meskipun tetap tidak banyak diperhatikan oleh siswa.


Penulis pada waktu mulai mengajar di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta ada tiga guru baru yang semuanya sudah berpengalaman mengajar di Jawa Tengah. Ketiga guru tersebut adalah almarhum Bapak E. Salbiono, Bapak Sumaryanto, dan penulis sendiri Bapak Ph. Mariatmadi. Almarhum Bapak E Salbiono mengampu bidang studi PMP, Bapak Sumaryanto mengampu bidang studi Bahsa Inggris, dan penulis mengampu bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia.  Namun setiap kali ‘sharing’ ternyata yang kami bertiga keluhkan tidak berbeda, yakni dilecehkan oleh para siswa pada saat mengajar di dalam kelas.


Para guru yang lebih senior pada umumnya mengetahui pelecehan ini namun mereka cenderung tidak tidak peduli dengan penderitaan guru baru ini. Para senior pada umumnya bila dimintai pendapat atau nasihat hanaya mengatakan agar kami tabah. Menurut mereka para siswa hanyalah mencobai guru barunya. Para senior tidak ada yang mau memberitahukan cara apa yang dapat kami tempuh untuk mengatasi hal itu. Atau mungkin juga memang mereka tidak tahu cara apa yang tepat bagi guru baru untuk mengatasi pelecehan ini.


Hiburan yang kami dapatkan dari para senior apabila kami guru baru mengeluhkan penderitaan ini adalah ketika mereka mengatakan bahwa mereka juga mengalami hal yang sama ketika menjadi guru baru. Dari hal itu penulis berusaha memahami bahwa hal ini memang jalur yan harus penulis lalui sebelum menemukan sikap siswa yang normal di dalam kelas pada saat pelajaran berlangsung. Untuk hal ini pikiran penulis dapat menerima, tetapi hati atau perasaan penulis sangat sukar untuk dapat menerima perlakuan tersebut.


Hati penulis semakin sakit rasanya ketika dari roman muka para guru senior seakan-akan menampakan rasa gembira atau kepuasan pada saat mendengar atau melihat penderitaan guru baru ini.


Terhadap realita ini penulis dalam hati mengatakan bahwa sesungguhnya dalam tubuh sekolah ini ada sesuatu yang tidak sehat yang seharusnya segera diatasi. Namun penulis tidak dapat menemukan apa nama ‘penyakit’ tersebut dan tidak tahu harus diobati dengan cara bagaimana dan oleh siapa.

Kepala sekolah setiap kali menerima keluhan guru baru memang segera bertindak dengan memarahi kelas yang bersangkutan. Namun dampak positifnya hanya bermanfaat untuk hari itu saja . Hari berikutnya sikap siswa kembali melecehkan seperti sediakala. Mungkin kepala sekolah tidak atau belum menemukan hal esensial untuk mengatasi hal tersebut. Akibat yang timbul adalah pelecehan terhadap guru baru berkepanjangan sampai bertahun-tahun.


Pelecehan seperti yang penulis sebutkan di atas hanyalah sedikit dari banyak contoh yang dapat penulis dibeberkan berkepanjangan.


Guru baru yang dipekerjakan di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta haruslah memiliki mental yang sangat kuat untuk dapat bertahan menjadi guru di unit tersebut. Sudah banyak guru baru yang terpaksa meninggalkan sekolah ini sebelum genap satu bulan berkarya. Tentu saja penyebabnya adalah tidak tahan menghadapi perilaku siswa yang tergolong tidak wajar tersebut.

BEBERAPA KEANEHAN
Sesuatu atau perilaku dapat dikategorikan sebagai suatu keanehan apabila hal tersebut berbeda dengan hal yang umum dijumpai. Fenomena keanehan ini banyak dijumpai di Unit SMA Pangudi Luhur Jakarta. Keanehan ini ada yang sudah menghilang, namun ada yang tetap melekat sapai saat ini.


Siswa tinggal kelas
Siswa yang tidak berhasil naik kelas atau tidak lulus ujian pada umumnya di sekolah menjadi pemalu atau minder. Namun di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta fenomena yang terjadi adalah kebalikannya. Mereka dengan bangga menyebut dirinya ‘Veteran’. Mereka tidak malu dengan mengatakan bahwa mereka bukan bagian dari kelasnya. Misalnya mereka mengatakan bahwa dirinya adalah kelas II,III, dan IV, meskipun sesunguhnya mereka masih duduk di kelas I,II, dan III. Tentu saja kejanggalan ini sudah menjadi hal yang biasa di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta.


Siswa yang tinggal kelas di sekolah ini pada umumnya menjadi ‘informal leader’ khususnya bagi siswa-siswa di kelasnya. Kepemimpinan mereka banyak yang cenderung mengarah ke hal yang negatif daripada positif. Banyak dari mereka yang kemudian memanfaatkan kesempatan misalnya dengan ‘memperbudak’ siswa yang yunior di kelasnya untuk berbagai keperluan. Contoh ‘memperbudak’ terebut misalnya sang’vteran’ menyuruh yuniornya untuk mengerjakan tugas dari guru bidang studi. Dalam hal ini sang ‘veteran tidak bekerja sama sekali namun dia dapat menyerahkan tugas dari guru tepat waktu dan hasilnya bagus. Atau dalam waktu istirahat sang ‘veteran’ tidak perlu bersusah payah antre jajanan di kantin karena dia dapat menyuruh yunior untuk antre jajanan untuk diri sang ‘veteran’.


Tidak memperhatikan pelajaran namun berhasil
Siswa kelas II yang melecehkan guru baru dalam arti tidak memperhatikan penjelasan dari guru perihal materi pelajaran semestinya mengalami kesulitan memahami pelajaran. Namun kenyataannya pada waktu penulis memberikan latihan atau ulangan mereka dapat menjawab dengan baik seperti halnya isi penjelasan dari penulis. Hal ini bukan karena mereka mencontek atau berbuat curang, tetapi atas hasil yang tergolong jujur. Pada saat pelaksanaan tes atau ulangan penulis mengawasi dengan saksama dan tidak tampak ada yang berbuat curang.


Untuk lebih meyakinkan penulis sering memberikan pertanyaan lisan kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Kembali penulis dibuat kaget karena umumnya mereka dapat menjawab dengan baik pertanyaan tersebut.


Melihat kenyataan seperti itu penulis berpikir bahwa mereka secara lahir tampak tidak memperhatikan, namun sesungguhnya dian-diam mereka memperhatikan.


Penulis memang dibuat kagum oleh kecerdasan para siswa pada waktu awal berkarya di Yayasan Pangudi Luhur. Pendaftar yang dapat diterima sebagai siswa di SMA Pangudi Luhur harus memiliki hasil tes IQ minimal 120 dan masih melalui saringan tes tertulis yang sangat ketat. Persaingan masuk memang ketat mengingat pendaftarnya begitu banyak, tetapi kapasitas dibatasi maksimal 4 kelas. Oleh karena itu bibit yang masuk ke SMA Pangudi Luhur Jakarta memang berkualitas tinggi.


Di kelas seperti ‘setan’, di luar sopan
Kembali membahas siswa-siswa yang melecehkan guru baru di dalam kelas. Bila mengingat kenakalan mereka memang luar biasa meruntuhkan mental guru baru. Banyak sekali perilaku siswa yang sangat merendahkan martabat guru baru selama mengajar di kelas. Misalnya ada siswa yang jelas-jelas tidur di dalam kelas atau ribut dan tidak memperhatikan pelajaran, namun pada saat guru sudah kehabisan kesabaran dan meminta untuk bangun atau memperhatikan, mereka tidak peduli. Karena emosi meningkat guru meminta siswa memilih guru atau siswa tersebut yang keluar kelas, dengan ringan dijawab agar guru saja yang keluar. Ada juga perilaku siswa yang sudah sangat kurang ajar yaitu melempari guru baru dengan mercon yang sudah dinyalakan. Tentu saja hal ini membuat guru baru hatinya semakin ciut.


Bila mengingat hal itu kadang terpikir apakah mereka di rumah tidak dididik sopan santun serta tenggang rasa oleh orang tua mereka. Apakah karena kesibukan yang luar biasa para orang tua metropolitan sehingga tidak punya waktu untuk meperhatikan petrkembangan emosional anak-anaknya? Apakah mereka belum tahu perihal baik dan buruk? Yang lebih ekstrim apakah mereka adalah anak-anak ‘setan’?


Fenomena kenakalan siswa yang tidak ada dalam literature pada waktu kuliah tersebut semakin membuat bingung penulis ketika bertemu mereka di luar area sekolah. Siswa-siswa yang sangat nakal di kelas, kenakalannya bisa hilang tak berbekas ketika di luar area sekolah. Bila pagi hari penulis sedang menunggu kendaraan umum untuk berangkat ke tempat kerja, sangat sering diajak bersama dalam mobil mereka. Di dalam mobil pembicaraan mereka sangat sopan dan sangat menghargai penulis sebagi guru atau orang yang lebih tua. Apabila naik bis kota dan tidak mendapatkan tempat duduk, sering sekali siswa yang sedang duduk memberikan tempat duduknya untuk penulis gunakan. Tegur sapa di tempat umum mereka lakukan dengan wajar dan sopan. Masih banyak perilaku wajar atau sopan yang mereka perlihatkan di luar area sekolah.


Perbandingan yang sangat mencolok antara di dalam kelas dengan di luar area sekolah tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan yang sulit dijawab.


MEREKA BUTUH PENDEKATAN PSIKOLOGIS
Tahun kedua penulis berkarya oleh Bapak R. Bobby H.S. diajak bergabung sebagai tim pembimbing OSIS yang pada waktu itu namanya PPSK SMA Pangudi Luhur Jakarta. PPSK singkatan dari Persatuan Pelajar Sekolah Katolik. Sebagai pembimbing OSIS tentu dituntut untuk banyak bergumul dengan para siswa.


Pendampingan OSIS dilaksanakan pada waktu intra kurikuler, namun lebih banyak dilaksanakan di luar jam belajar atau biasa disebut ekstra kurikuler. Pembimbing OSIS memang dituntut untuk mau berkorban banyak terutama dalam hal waktu.


Kegiatan yang perlu pendampingan antara lain dalam hal belajar berorganisasi. Pembimbing harus dapat mengarahkan cara-cara berorganisasi yang baik dan benar. Hal ini bertujuan agar sisa memiliki bekal kemampuan berorganisasi yang dapat dimanfaatkan di kemudian hari. Termasuk di dalamnya membimbing mereka menyusun berbagai proposal kegiatan, aneka macam surat ijin kegiatan, dan berbagai surat perjanjian.


Para siswa khusunya yang tergabung dalam OSIS ataupun panitia kegiatan juga memerlukan pendampingan ekstra. Ekstra di sini terlebih dalam hal waktu. Pembimbing harus memiliki kesediaan untuk mendampingi ketika mencari perijinan suatu kegiatan. Pembimbing juga harus mendampingi ketika panitia melakukan survei umtuk mencari tempat kegiatan. Survei ini biasa dilakukan pada hari Minggu atau hari libur, sehingga tidak mengganggu jam belajar siswa. Pada saat pelaksanaan suatu kegiatan pembimbing bahkan dituntut untuk berada di lokasi kegiatan setiap saat. Bahkan tidak jarang siang malam ada di lokasi kegiatan.


Pendampingan yang mengandung risiko terjadinya perkelahian adalah pada saat mendampingi siswa yang sedang melakukan suatu event pertandingan olah raga. Rawan konflik ini tidak hanya pada para pemain, tetapi justru yang berat adalah mengendalikan supporter.


Pendampingan yang intensif ini ternyata menimbulkan efek yang di luar dugaan penulis. Sejak penulis sering bergumul dengan kegiatan kesiswaan penulis menjadi semakin mengenal pribadi-pribadi siswa. Pribadi-pribadi tersebut banyak sekali yang memiliki pengaruh pada siswa lainnya , baik sebagai formal leader maupun informal leader. Tentu saja para siswa juga semakin banyak yang mengenal pribadi penulis. Kedekatan psikologis secara informal ini ternyata banyak berpengaruh secara positif ketika penulis berada di dalam kelas sebagai guru bidang studi. Siswa yang melecehkan menjadi berkurang secara drastic.


Kegiatan belajar mengajar menimbulkan rasa stress bagi penulis berubah menjadi semakin ringan. Kegiatan belajar mengajar yang sudah penulis persiapkan pada malam atau hari-hari sebelumnya dapat terlaksana dengan lancar.


Berdasarkan fenomena ini penulis berasumsi bahwa siswa –siswa SMA Pangudi Luhur Jakarta bisa menghargai orang lain sebagaimana layaknya, setelah mendapatkan pendekatan psikologis.


PESAN KEPALA SEKOLAH
Mengingat pesan kepala sekolah yang mengatakan bahwa guru boleh memberikan materi pelajaran melebihi isi kurikulum asal dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menambah kecerdasan siswa, munculah tantangan baru. Memahami pesan kepala sekolah tersebut sepertinya enak dan ringan. Namun setelah dikaji lebih dalam ternyata pesan tersebut bukanlah pesan yang sederhana. Pesan tersebut menuntut kesiapan diri yang cukup baik dan harus didukung oleh system dan tujuan yang baik pula.


Boleh melebihi isi kurikulum berarti tidak boleh mengurangi isi kurikulum. Tentu saja ini sudah merupakan tantangan yang berat, karena untuk menyelesaikan isi kurikulum dari pemerintah bearti harus memanfaatkan waktu yang tersedia dengan seefektif mungkin. Pada hal isi kurikulum sudah cukup banyak.


Dapat dipertanggungjawabkan. Kata-kata tersebut semakin berat bobotnya daripada menambah isi kurikulum. Tentu saja pengertiannya materi yang diberikan tidak boleh salah dari segi apapun. Dari segi beban siswa tentu tidak boleh sangat membebani. Dari segi moral tentu tidak boleh mengarah kepada hal yang menyalahi aturan moral yang berlaku. Dan masih banyak lagi.


Dapat menambah kecerdasan siswa. Ini juga merupakan kata-kata yang berat dari segi maknanya. Materi tambahan haruslah tidak memperbodoh siswa namun dapat menambah kepandaianan siswa. Menambah wawasan tentu merupakan bagian dari makna kata tersebut.


Menanggapi pesan kepala sekolah tersebut penulis mencoba menyampaikan hal yang lebih. Untuk kelas II penulis menyampaikan tambahan berupa ‘job description’ atau uraian tugas dalam suatu organisasi. Tujuan penulis adalah agar siswa semakin memahami fungsi, hak, dan kewenangan personalia dalam suatu organisasi. Untuk Kelas III penulis menambahkan upaya memenangkan persaingan dalam bursa tenaga kerja, disetai dengan kiat-kiat menjawab dalam tes wawancara pelamar kerja, beserta dandanan yang selayaknya agar dapat memenangkan persaingan bursa tenaga kerja.


PENUTUP
Sekelumit pengalaman menjadi staf pengajar di unit SMA Pangudi Luhur Jakarta sebagai bagian dari sebongkah pengalaman yang penulis miliki sejak berkarya di Yayasan Pangudi Luhur ini tentulah hanya sumbangan kecil yang tidak berarti jika dibanding kiprah  Yayasan Pangudi Luhur. Meskipun demikan penulis turut berbangga karena bersama Yayasan Pangudi Luhur telah boleh turut mengantarkan sebagaian dari generasi bangsa Indonesia untuk menapak maju menuju kedewasaan dan kesuksesan yang telah dan atau akan mereka raih.


Penulis : Ph. Mariatmadi








^:^ : IP 54.81.79.128 : 3 ms   
SMA PANGUDI LUHUR I BRAWIJAYA JAKARTA
 © 2017  http://smaplbrawijaya-jkt@pangudiluhur.org/